Langsung ke konten
Spotlight

Jay Idzes: Dari Ancaman Pembekuan Darah hingga Memimpin Lini Belakang di Serie A

Dibuang akademi PSV dan sempat divonis menderita penyakit pembekuan darah yang mengancam kariernya, Jay Idzes menolak menyerah. Kini, ia berdiri tegap sebagai pemimpin di lini belakang Sassuolo dan kapten Tim Nasional Indonesia.

Di atas rumput Serie A, Jay Idzes tampil tenang dan tanpa ragu. Gerakannya terukur, pembacaan bolanya matang, dan komando vokalnya mengatur kerapihan lini pertahanan Sassuolo.

Namun, jika memutar waktu ke akhir 2023, ketenangan itu diuji oleh ketakutan terbesar seorang atlet. Di ruang perawatan medis, Idzes mendapati vonis menderita Deep Vein Thrombosis—penyakit pembekuan darah serius yang bukan saja mengancam masa depan sepak bolanya, tetapi juga kesehatannya secara umum.

Bagaimana seorang bek yang pernah dibuang akademi raksasa Belanda dan berjuang melawan penyakit parah ini bangkit, menembus Serie A bersama Sassuolo, serta menjelma menjadi jenderal lini belakang Tim Nasional Indonesia?

Dibuang PSV dan Jalan Terjal di Belanda

Lahir di Mierlo pada Juni 2000, bakat sepak bola Idzes muda memikat pemandu bakat PSV Eindhoven. Di usia sembilan tahun, ia mengenakan seragam merah-putih milik salah satu klub terbesar di Belanda tersebut.

Namun, perjalanan awal tak pernah mulus. Lima tahun menimba ilmu di akademi PSV, evaluasi tim kepelatihan menyatakan bahwa perkembangan fisik dan teknis Idzes dianggap belum memenuhi standar. Ia dilepas pada 2014.

Penolakan di usia 14 tahun bisa mematahkan mentalitas pemain muda. Namun alih-alih meredup, Idzes membangun ulang kariernya melalui jalur yang lebih panjang: VVV-Venlo, FC Eindhoven di kasta kedua, hingga akhirnya mendapat panggung Eredivisie bersama Go Ahead Eagles pada 2020.

Di Go Ahead Eagles, Idzes membuktikan bahwa PSV telah salah menilainya. Ia menjelma menjadi ball-playing defender serba bisa yang tak canggung berduel dengan penyerang-penyerang papan atas Liga Belanda.

Langkah ke Italia dan Ujian yang Mengancam Karier

Performa konsistennya di Belanda menarik minat klub Italia, Venezia FC, pada musim panas 2023. Di bawah arahan taktis sepak bola Italia yang terkenal ketat, Idzes langsung merebut tempat utama dan menjadi pilar penting di Serie B.

Namun, ketika kariernya sedang menanjak, badai menghantam pada Oktober 2023. Idzes didiagnosis mengalami penyumbatan pembuluh darah vena (Deep Vein Thrombosis). Ia harus ditarik dari lapangan dan menjalani perawatan intensif berbulan-bulan. Sepak bola seketika terhenti.

Dalam masa pemulihannya, Idzes merefleksikan momen paling krusial dalam hidupnya tersebut:

“Ketika Anda mendengar diagnosis seperti itu, sepak bola tiba-tiba menjadi hal nomor dua. Hal terpenting adalah kesehatan Anda. Tetapi di dalam hati, saya selalu berjanji pada diri sendiri untuk kembali ke lapangan dalam kondisi yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.”

Titik Balik: Promosi, Garudamania, dan Seragam Sassuolo

Disiplin tinggi selama masa pengobatan membuahkan hasil manis. Idzes dinyatakan sembuh total secara medis pada awal 2024 dan langsung kembali memimpin pertahanan Venezia hingga sukses merebut tiket promosi ke Serie A melalui babak play-off.

Di saat yang sama, proses naturalisasinya rampung. Debutnya bersama Tim Nasional Indonesia pada Maret 2024 melawan Vietnam ditandai dengan performa dingin, satu gol sundulan di Hanoi, dan kepemimpinan alami. Tidak butuh waktu lama bagi Idzes untuk dipercaya mengenakan ban kapten skuad Garuda.

Kematangan dan ketenangannya di kasta tertinggi Italia membuat namanya kian diperhitungkan. Langkah besarnya berlanjut saat klub Serie A, Sassuolo, merogoh kocek untuk mengamankan jasanya. Mengenakan nomor punggung 21 di Sassuolo, Idzes menegaskan statusnya sebagai bek tengah elit yang sanggup bersaing di salah satu liga paling taktis di dunia.

Jenderal Pertahanan Bermental Baja yang Tak Terhentikan

Bertahun-tahun lalu di Eindhoven, seorang anak laki-laki harus melepas seragam akademinya dengan kepala tertunduk karena dianggap kurang berbakat. Beberapa tahun kemudian, ia harus berbaring di rumah sakit, mempertanyakan apakah kakinya masih bisa menendang bola profesional.

Kini, Jay Idzes berdiri di panggung Serie A bersama Sassuolo dan menyandang ban kapten Tim Nasional Indonesia. Penolakan dan penyakit tidak pernah menghancurkannya—keduanya justru menjadi pondasi yang membentuk jenderal pertahanan bermental baja.

← Sebelumnya Kekalahan Telak Singapura dari Malaysia Memicu Tanda Tanya Selanjutnya → Ole Romeny Janji Tampil Maksimal di Final ASEAN Cup 2026