Di balik panggung drama paling menegangkan di Senayan, ketika batas antara tiket final dan tragedi hanya terpaut produktivitas gol, Ole ter Haar Romeny berdiri sebagai orkestrator dingin. Perjalanan panjang dari kegagalan di Willem II hingga menjadi bintang Fortuna Sittard bermuara pada satu malam paling emosional dalam kariernya.
PESTA GILA DI AMBANG TRAGEDI
Papan skor di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menyala terang menunjukkan angka yang tak masuk akal: 9-2. Namun, di balik kemenangan fantastis atas Bangladesh pada laga pamungkas Grup A FIFA ASEAN Cup 2026, Kamis malam (1/10/2026), tidak ada tempat untuk bersantai. Di pinggir lapangan, staf pelatih dan pemain di bangku cadangan tak henti-hentinya berteriak keras ke arah lapangan: “Satu lagi! Satu lagi!”
Atmosfer Senayan berada di puncak kegilaan. Di saat bersamaan, Malaysia baru saja membantai Singapura 6-0. Satu gol saja kurang, maka mimpi Skuad Garuda melenggang ke partai puncak akan sirna di genggaman rival abadi.
Di tengah tekanan yang menghimpit dan tensi pertandingan yang meninggi, seorang pria berdiri dengan kepala tegak. Ole ter Haar Romeny bukan sekadar hadir di lapangan; ia adalah dirigen di tengah kekacauan. Meski Mitchell Baker mencuri perhatian lewat borongan lima golnya, Romeny adalah sosok “dalang” sejati yang memotori hujan gol tersebut. Dengan catatan empat assist presisi dan keterlibatan langsung di hampir seluruh proses gol, Romeny mengubah laga paling menegangkan menjadi malam bersejarah.
“Ini pertandingan paling gila yang pernah saya mainkan. Luar biasa rasanya. Setiap kali kami mencetak gol, saya melihat ke arah bangku cadangan dan mereka berteriak, ‘Satu lagi!’ Mereka terus bilang, ‘Satu lagi!'” ujar Romeny usai laga.
PENEMPAAN DI KOTA KELAHIRAN DAN KEKACAUAN WILLEM II
Ketenangan dan kecerdasan taktis yang ditunjukkan Romeny di SUGBK tidak muncul begitu saja. Bakat tersebut ditempa melalui perjalanan karier yang penuh warna dan ujian mental di sepak bola Belanda.
Lahir di Nijmegen pada Juni 2000, Romeny adalah produk asli akademi NEC Nijmegen. Menembus tim utama di usia 17 tahun pada awal 2018, ia langsung dikenal sebagai penyerang dengan pergerakan cerdik yang tak hanya menunggu bola, melainkan aktif membuka ruang bagi rekan-rekannya.
Namun, grafik kariernya tidak selalu mulus. Saat dipinjamkan ke Willem II Tilburg di kasta tertinggi Eredivisie pada musim 2020/2021, Romeny menghantam dinding tebal. Ia kesulitan mendapatkan menit bermain reguler, gagal mencetak gol dari 11 penampilan, dan harus menerima kenyataan pahit terasing di bangku cadangan. Bagi seorang penyerang muda, momen tersebut adalah ujian mental yang bisa merusak kepercayaan diri.
TITIK BALIK DI EMMEN DAN KEMBALINYA SANG PREDATOR
Menolak untuk menyerah pada keadaan, Romeny mengambil keputusan berani pada Januari 2022 dengan bergabung ke FC Emmen. Di sinilah ledakan kariernya terjadi.
Bermain di bawah panggung Eredivisie musim 2022/2023, Romeny menjelma menjadi salah satu penyerang paling menakutkan di Belanda. Ia memberondong gawang lawan sebanyak 11 kali dari 33 pertandingan. Ketajamannya membuktikan bahwa ia adalah penyerang kelas atas yang sanggup bersaing di level elite Eropa.
Pengalaman berharga di Emmen membawanya ke FC Utrecht, sebelum akhirnya berlabuh di Fortuna Sittard pada musim 2026. Di Fortuna Sittard, ia langsung membuktikan kelasnya dengan mencetak gol ke gawang raksasa Belanda, PSV Eindhoven, dalam laga debutnya.
Pematangan taktis di Eropa ini membentuk Romeny menjadi complete forward—seorang penyerang yang tidak hanya lapar gol, tetapi juga memiliki visi bermain setajam gelandang serang (playmaker).
MELETAK EMOSI DI SUGBK: DARI KEMARAHAN MENJADI MAHARAYA
Seluruh penempaan karier Eropa itu mencapai titik klimaksnya ketika Romeny mengenakan seragam merah-putih Tim Nasional Indonesia. Pertandingan melawan Bangladesh menjadi bukti nyata bagaimana maturity dan kontrol emosinya menjadi kunci keselamatan Indonesia.
Tensi tinggi di lapangan sempat memuncak saat pemain Bangladesh mencetak gol dan melakukan aksi provokatif dengan menendang Romeny. Pria berusia 26 tahun itu sempat tersulut emosi hebat.
“Bahkan setelah lawan mencetak gol dan pemain itu menendang saya, saya sempat sangat marah. Menurut saya, pertandingan ini benar-benar menyajikan segalanya,” pukas Romeny.
Namun, alih-alih lepas kendali dan merugikan tim, Romeny menyalurkan kemarahannya menjadi pasokan umpan-umpan mematikan. Empat assist lahir dari kakinya, melayani pergerakan Mitchell Baker dan barisan depan Garuda hingga meluluhlantakkan pertahanan Bangladesh. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan lini tengah dan depan dengan sangat sempurna.
MEMBINGKAI AMBISI MENUJU PARTAI PUNCAK
Bertahun-tahun lalu di Tilburg, Ole Romeny harus duduk termenung di bangku cadangan Willem II, mempertanyakan masa depannya di kasta teratas sepak bola Belanda.
Kini, di bawah gema puluhan ribu pendukung di SUGBK, ia berdiri tegap sebagai otak serangan Skuad Garuda yang membawa Indonesia menembus partai final FIFA ASEAN Cup 2026 untuk menghadapi Thailand.
Penolakan di masa lalu dan tekanan gila di Senayan tidak merubuhkannya. Keduanya justru menempa Ole ter Haar Romeny menjadi sosok ‘dalang’ berdarah dingin yang siap mengantar Indonesia mengukir sejarah baru.
“Sangat luar biasa dan saya begitu bahagia kami bisa lolos ke babak final. Namun, tugas kami belum selesai. Sekarang kami harus benar-benar bangkit dan menuntaskannya,” tutup Romeny dengan tegas.



